Inilah blog hasil iseng tapi bermanfaat, disini tersedia | Trik Sulap | Trik Facebook | Info tentang Sanggar Emas MAN 2 Barabai
Tampilkan postingan dengan label Sanggar Emas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sanggar Emas. Tampilkan semua postingan

Musikalisasi Puisi: Apa Dan Bagaimana?

Hakikat musikalisasi adalah musik, berarti kesan auditif yang harus digarap, bukan justru terjebak pada penggarapan gerak, blocking, busana, dan sebagainya. Hal-hal yang berkaitan dengan gerak, blocking, busana, dan sebagainya itu hanyalah unsur penunjang, bukan unsur utama.
Apakah musikalisasi itu? Ternyata batasan mengenai musikalisasi puisi melahirkan perdebatan panjang. Ada banyak perbedaan pendapat tentang musikalisasi puisi. Perbedaan itu misalnya saja: (a) bahwa dalam musikalisasi puisi tidak boleh ada aktivitas membaca puisi; jika ada pembacaan puisi di dalamnya, kegiatan tersebut bukanlah musikalisasi puisi, (b) bahwa dalam musikalisasi puisi boleh saja terdapat kegiatan pembacaan puisi, sebab tidak semua baris atau frase dalam puisi bisa dimusikalisasikan, (c) bahwa membaca puisi dengan iringan alat musik bukanlah musikalisasi puisi, dan (d) bahwa membaca puisi dengan alat musik juga merupakan kegiatan musikalisasi puisi.
Bagaimana sesungguhnya musikalisasi puisi itu?
HAKIKAT MUSIKALISASI PUISI
Ada dua hal esensial yang mesti kita cermati saat kita hendak mendefenisikan musikalisasi puisi, yaitu: (1) hakikat performansi puisi adalah pembacaan, dan (2) musik tidak sejajar dengan lagu.
Performansi Puisi adalah Pembacaan
Setiap kali seorang penyair menulis puisi, yang ia bayangkan adalah bagaimana kelak jika puisi itu dibacakan, bukan untuk dinyanyikan. Oleh karena itu musikalisasi puisi pun harus berangkat dari ikhwal pembacaan ini.
Pembacaan puisi itu sesungguhnya sudah sangat mengandung unsur musik karena puisi dicipta dengan memperhatikan faktor irama. Namun apa salahnya jika pembacaan puisi itu dipadukan dengan unsur nada dan melodi. Pembacaan puisi yang dipadukan dengan unsur tersebut dapat memperkuat suasana dan karakter puisi, memperjelas makna dan ikut membantu memperjelas amanat puisi tersebut. Untuk memperkuat puisi tidak harus pembaca puisi memaksakan bangunan utuh puisi tersebut menjadi lagu. Apalagi jika upaya tersebut justru dapat merusak dan menghancurkan totalitas puisi itu.
Adakalanya intonasi, modulasi dan jeda dalam pembacaan puisi justru akan hancur manakala dilagukan. Intonasi, modulasi dan jeda itu hanya menemukan kekuatannya saat dibacakan. Dalam satu bait puisi boleh jadi seorang pembaca puisi akan secara berganti-ganti memakai tekanan dinamik, tempo, dan nada secara bergantian. Jika hal itu diubah ke dalam melodi, justru akan terasa monoton. Suasana kontemplatif, sugestif, dan afektif justru terkendala dengan birama misalnya saat dilagukan.
Sedangkan tempo pada lagu terdapat pada satu konstruksi bait, yang ditentukan oleh kecepatan ketukan nada dalam tiap-tiap notasi. Bahkan pada keseluruhan lagu tersebut tempo sudah ditentukan lebih dahulu, misalnya dengan forte, piano forte, allegro, adagia dan sebagainya.
Irama pada lagu umumnya bersifat permanen dan telah ditentukan sebelumnya oleh pencipta lagu tersebut. Sedangkan irama, modulasi, dan jeda pada puisi dipengaruhi oleh dua hal, yaitu suasana konkret puisi dan ditentukan oleh interpretasi masing-masing pembaca.
Irama, modulasi, dan jeda adalah bagian dari kegiatan pembacaan puisi yang sulit untuk dilagukan. Jika pun dipaksa untuk dilagukan akan terjadi disharmoni irama lagu itu sendiri. Oleh karena itu, dalam kegiatan musikalisasi puisi, jika terdapat bait dan bagian-bagiannya yang memiliki karakter kuat untuk dibacakan, disarankan untuk tetap dibacakan, tidak perlu dilagukan. Untuk membangun kesan kuat cukup diberi dentingan piano, gesekan bola, atau sebagainya, pada bagian tersebut.
Belum lagi jika kita harus memperhatikan enjambemen dan tipografi dalam puisi. Enjambemen adalah pemenggalan baris dan hubungan antara baris. Pemenggalan baris ini pun memiliki makna tersendiri bagi penyair. Pembaca puisi adalah duta penyair untuk menyampaikan pesan kepada pendengar. Jika saat melagukan puisi persoalan enjambemen dirusak hanya untuk kepentingan melodi, tentu akan mengganggu pesan tersebut.
Dalam penulisan puisi, penyair selalu memperhatikan bentuk visual puisi, entah itu pemakaian huruf kapital atau huruf kecil, tanda baca, dan grafis penataan huruf-hurufnya. Segala hal yang menyangkut tipografi itu juga mengandung makna tertentu. Hal tersebut sulit untuk diwujudkan ke dalam partitur lagu.
Pada dasarnya musikalisasi puisi jangan sampai merusak kodrat puisi. Puisi adalah puisi, dengan segala kekhasan yang dipunyainya. Musikalisasi puisi harus tetap mendudukkan puisi sebagai teks sastra, bukan hanya menjadi sebuah lirik lagu. Puisi pada hakikatnya ditulis sebagai teks sastra bukan sebagai teks lagu. Banyak puisi yang memiliki kemungkinan kecil untuk dapat dilagukan. Artinya tidak semua puisi dapat dilagukan. Bahkan, boleh jadi dalam sebuah puisi, hanya beberapa bait saja yang dapat ditampilkan ke dalam tataan lagu.
Musik Tidak Sejajar dengan Lagu
Terdapat pandangan salah kaprah mengenai musik. Kita sering menyamakan antara musik dan lagu. Musik antara lain dimaknai sebagai nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama yang harmoni. Merujuk pada pengertian tersebut jelas sekali dalam setiap puisi sudah mengandung unsur musik.
Sedangkan lagu (dari bahasa Arab; al laghwu) dimaksudkan sebagai teks yang dengan sengaja dan sadar dinotasikan dengan nada-nada tertentu dan dibentuk oleh melodi. Dalam lagu memang terdapat unsur musik. Tetapi musik bukanlah lagu. Tanpa lagu pun sebuah konstruksi musik tetap dapat terbangun. Musik ada yang bernotasi, ada pula yang tidak bernotasi. Suara gemercik air hujan, debur angin, tiupan angin menyentuh dauh-daun, dan sebagainya merupakan contoh musik tanpa notasi. Kentongan yang ditabuh berkali-kali, lonceng gereja, bunyi bedug di masjid, dan sebagainya juga merupakan musik yang tanpa notasi.
Dengan demikian musikalisasi puisi sebenarnya tidak berarti melagukan puisi. Musikalisasi puisi sejatinya upaya menguatkan potensi musik yang sudah ada dalam puisi itu, dengan menambahkan unsur musik yang lain, misalnya tangga nada, melodi, dan birama. Dengan catatan jika bait-bait tertentu memang sangat kuat ketika dibacakan, jangan dipaksa untuk dilagukan.
LANGKAH-LANGKAH MUSIKALISASI PUISI
Memilih Puisi
Sudah disebutkan di atas bahwa tidak semua puisi dapat dimusikalisasikan. Puisi yang dapat dibacakan pada umumnya memiliki konstruksi bait yang relatif sama antara bait pertama, kedua, dan seterusnya. Di samping itu bagus sekali jika puisi yang dipilih adalah puisi yang memiliki pola persajakan yang relatif konsisten. Puisi-puisi lirik memang akan lebih bagus jika dimusikalisasikan.
Perhatikan contoh puisi berikut ini.
RUMAH SAKIT SIMPANG
Mendekatlah. Adakah yang masih tersisa
bila semuanya telah diruntuhkan
kenangan pun suatu saat akan musnah
dan kehidupan akan pucat tanpa masa silam
Tak ada yang kekal memang. Tak ada
Yang tiba dan yang pergi silih berganti
hari demi hari memanjang menjadi kenyataan
kehidupan memberikan sukaduka dan bahagia
Biarlah yang lampau tenggelam
catatlah apa saja yang kau perlukan
biarlah matahari tenggelam
menghapus lelah dan menyajikan impian
Kehidupan ialah estafet panjang
Kau harus menerima dan kemudian memberikan
Mendekatlah. Adakah yang masih tersisa
bila semuanya telah diruntuhkan
Tataplah. Wajah tua renta dan tak terawat
kini rata dengan tanah. Siapa pernah
terbaring di sana. Nanti ada
seorang anak membuka buku sejarah dan bertanya
Betapa asing kehidupan bila kenangan
telah kehilangan makna. Ia bukakan kelopak
semangat yang mendatang. Tapi pada malam dingin begini
siapa yang akan bicara. Siapa?
(Rudi Isbandi)
Jika kita perhatikan sepintas puisi karya Rudi Isbandi di atas jumlah baris dalam setiap bait relatif sama, yaitu 4 baris. Pola persajakannya pun relatif sama yaitu a-a-a-a. Mengggarap musikalisasi di atas akan relatif lebih mudah.
Puisi di atas bersifat liris, sebuah ungkapan perasaan terhadap suatu hal. Sifat liris itu memiliki peluang besar untuk ditata ke dalam partitur, melodi, atau birama tertentu.
Menyusun Partitur Musikalisasi Puisi
Partitur musik adalah teks lagu yang berisikan puisi-puisi yang diaransemen ke dalam bentuk lembaran musik yang berupa melodi, irama/ritme, dan harmoni.
Sebelum menyusun partitur secara lengkap dan utuh, sebaiknya kita membaca puisi yang akan dimusikalisasikan secara cermat. Kita pilih bait-bait mana yang memiliki peluang untuk dinyanyikan dan bait-bait mana yang justru kuat ketika dibacakan.
Bait terakhir puisi Rumah Sakit Simpang karya Rudi Isbandi di atas akan lebih baik dan kuat jika dibacakan, bukan dinyanyikan, sebab dalam bait tersebut terbaca jelas simpulan dan pesan puisi. Dalam bagian ini pembaca puisi akan lebih leluasa memberikan tekanan pada bagian-bagian baris yang dianggap mengandung pesan dan suasana kuat. Sedangkan bait-bait lain boleh atau berpeluang untuk dinyanyikan.
Agar kita dapat menyusun partitur musikalisasi puisi secara tepat kita perlu menguasai unsur-unsur musik secara umum. Unsur-unsur musik yang dimaksud adalah : nada (suara dengan getaran tertentu), melodi (susunan nada dengan interval tetentu – kalimat lagu), irama(lembut, keras, agung, dan sebagainya – tempo/birama), harmoni (keselarasan dan kepaduan seluruh unsur pembangun musikalisasi), serta unsur pendukung lain seperti ekspresi (pelan.lembut, penuh semangat, dan sebagainya), dinamika (keras-lembut), serta bentuk lagu.
Menampilkan Musikalisasi Puisi
Keberhasilan musikalisasi puisi terletak pada bagaimana unsur-unsur musik dalam puisi dapat disajikan secara maksimal. Artinya, musikalisasi puisi merupakan seni auditif, bukan seni visual. Keindahannya terletak pada kemampuan bunyi membangun imaji auditif dan estetik dalam diri pendengarnya.
Maka, penampilan musikalisasi puisi tidak harus terjebak pada dramatisasi/teatrikalisasi puisi, yang lebih menonjolkan gerak daripada bunyi. Gerak boleh saja ditampilkan asal memberikan kontribusi terhadap lahirnya/ terciptanya bunyi musik dalam musikalisasi puisi. Gerak boleh saja ditampilkan musikalisasi puisi asal jangan sampai mengurangi fungsi bunyi demi musikalisasi puisi tersebut.

Teknik Gerak Tari

Teknik Tari adalah suatu cara untuk melakukan sesuatu gerak tari agar lebih baik, Teknik tari merupakan metode atau cara latihan tari yang sangat baik dan efektif, sebagai persiapan fisik disamping juga untuk menujang ketrampilan gerak dibidang tari, atau untuk mempersiapakan seorang penari, terutama pada mahasiswa Jurusan Tari ISI Surakarta. Teknik merupakan sruktur anatomi pisikologi yang mengembangkan gerak dengan tari. Guna teknik adalah untuk melatih jiwa dan pikiran secara runtut agar dalam mempergunakan tubuh sebagai sarana ekpresi, dan melatih tubuh supaya tunduk dan reponsip terhadap pikiran yang ekpresif. Dalam pengunaan gerak tari tubuh adalah intrumen atau alat, sedangkan gerak adalah medianya yang akan diolah. Pencapaian teknik perlu didahuluhi persiapan alat yang kuat dan lentur yang dapat dipergunakan dalam mengukapkan, mengekpresikan dan menampilkan gerak yang diinginkan agar bias tercapai dengan sempurna.

Praktik Tata Lampu



Proses kerja penataan cahaya dalam pementasan teater membutuhkan waktu yang lama. Seorang penata cahaya tidak hanya bekerja sehari atau dua hari menjelang pementasan. Kejelian sangat diperlukan, karena fungsi tata cahaya tidak hanya sekedar menerangi panggung pertunjukan. Kehadiran tata cahaya sangat membantu dramatika lakon yang dipentaskan. Tidak jarang sebuah pertunjukan tampak sepektakuler karena kerja tata cahayanya yang hebat. Untuk hasil yang terbaik, penata cahaya perlu mengikuti prosedur kerja mulai dari menerima naskah sampai pementasan.



Prosedur atau langkah kerja pada dasarnya dibuat untuk mempermudah kerja seseorang. Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa kerja penata cahaya tidak hanya sekedar menata lampu, menghidupkan, dan mematikannya.

3.5.1 Mempelajari Naskah

Naskah lakon adalah bahan dasar ekspresi artistik pementasan teater. Semua kreativitas yang dihasilkan mengacu pada lakon yang dipilih. Tidak hanya sutradara dan aktor yang perlu mempelajari naskah lakon. Penata cahaya pun perlu mempelajari naskah lakon. Berbeda dengan aktor yang berkutat pada karakter tokoh peran, penata cahaya mempelajari lakon untuk menangkap maksud lakon serta mempelajari detil latar waktu, dan tempat kejadian peristiwa.

Mempelajari tempat kejadian peristiwa akan memberikan gambaran pada penata cahaya tempat cerita berlangsung, suasana dan piranti yang digunakan. Mungkin ada piranti yang menghasilkan cahaya seperti obor, lilin, lampu belajar, dan lain sebagainya yang digunakan dalam cerita tersebut. Ini semua menjadi catatan penata cahaya. Setiap sumber cahaya menghasilkan warna dan efek cahaya yang berbeda yang pada akhirnya akan memberikan gambaran suasana.




Download lebih lengkap dalam bentuk Ms. Word

Jenis-Jenis Panggung


Dalam sejarah perkembangannya, seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Misalnya, dalam panggung yang penontonnya melingkar, membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Untuk memperoleh hasil terbaik, penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut.

4.1.1 Jenis-jenis Panggung

Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon, sutradara, dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Ketiganya adalah panggung proscenium, panggung thrust, dan panggung arena. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah, penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik.

4.1.1.1 Arena

Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung (Gb.274). Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton, maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk, ukuran, dan penempatannya. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi.



Download lebih lengkap PLUS GAMBAR2 PANGGUNG dalam bentuk Ms. Word

Olah Vokal

SUARA
Penguasaan suara dalam seni acting pada dasarnya adalah penguasaan diri secara utuh, karena kedudukan suara dalam hal ini hanyalah merupakan salah satu alat ekspresi dan totalitas diri kita sebagai seorang pemain (actor). Pengertian ‘penguasaan diti secara utuh’ menuntut suatu keseimbangan seluruh aspek serta alat-alatnya, baik yang menyangkut kegiatan indrawi, perasaan, pikiran atau yang bisa disebut segi-segi dalam dari seni acting, maupun yang menyangkut segi-segi luarnya seperti tubuh dan suara. Ketimpangan akan menghasilkan ketimpangan.



Pernafasan Diafragma
Otot-otot akan berkembang dan menegang ketika kita menghisap nafas, hanya bagian inilah yang tegang. Kemudian otot-otot samping bagian punggung pun ikut pula mengembang lalu mengempis saat nafas dihembuskan kembali.
Posisi diaphragma adalah diantara rongga dada dan rongga perut. Pernafasan melalui diaphragma inilah yang dirasakan paling menguntukan dalam berolah vocal, sebab tidak mengakibatkan ketegangan pada peralatan pernafasandan peralatan suara dan juga mempunyai cukup daya untuk pembentukan volume suara. Keuntungan lain yang diperoleh adalah pada saat ita menahan nafas otot-otot diaphragma tersebut tegang, ketegangan otot ini justru melindungi bagian lemah badan kita yakni ulu hati. Pernafasan ini sangat baik dalam usaha menghimpun “tanaga dalam” yang mengolah vibrasi, karena pernafasan diaphragma akan memudahkan kita dalam mengendalikan dan mengatur penggunaan pernapasan.
Berlatih pernapasan banyak ragam dan caranya. Latihan pernafasan bisa dilakukan dengan berbagai cara, dari cabang-cabang beladiri seperti pencak silat, karate, atau berenang sekalipun. Namun ada beberapa catatan penting yang harus dilakukan untuk tujuan pernafasan dalam pemeranan (acting), yaitu:


Latihan 1.
- Berbaring rata di lantai dan bernapaslah pada posisi tersebut, rasakan tubuh betul-betul rileks.
- Berbaring dilantai, rasakan daya beratnya, pusatkan pikiran kea rah telapak kaki kita, ke ujung-ujung jari, rasakan seluruh pergelangan kaki terlepas. Bayangkan seluruh nadi terisi udara, engsel-engsel lututpun terisi udara biarkanlah tulang paha kita rileks sehingga daging dan otot-otot menjadi satu dengan tulang-tulang. Bayangkan sendi-sendi pinggang dan tuang paha berisi udara sehingga seluruh tubuh tidak lagi memberatkan kaki. Biarkan otot punggung dan perut


Download lebih lengkap dalam bentuk Ms. Word

Menulis Naskah Teater

Setelah kita mengenal berbagai macam dasar yang diperlukan untuk bermain drama, akhirnya sampailah kita pada naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut.

Sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, pemain / lakon dan plot atau rangka cerita.
1. Tema
Tema adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.
1. Lakon
Dalam cerita drama lakon merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita.oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :
v Dimensi fisiologi ; ciri-ciri badani
usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.
v Dimensi sosiologi ; latar belakang kemasyarakatan
status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dll.
v Dimensi psikologis ; latar belakang kejiwaan
temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dll.
Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari.........................



Download lebih lengkap dalam bentuk Ms. Word

Periodisasi Sastra Indonesia


 


         

1.Pengertian kesusastraan dan sastrawan
Menurut segi bahasa kesusastraan terdiri dari kata susastra yang ditambahi imbuhan ke – an. Menurut bahasa sanskerta susastra terbagi lagi menjadi dua kata yaitu kata su dan sastra.Su berarti indah atau baik dan sastra berarti lukisan atau karangan. Jadi, susastra berarti karangan atau lukisan yang baik dan indah. Kesusastraan berarti segala tulisan atau karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2001:
1. Sastra : bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari).
2. Kesastraan : perihal sastra (makna lebih luas daripada kesusastraan).
3. Sastrawan : 1. Ahli sastra, 2. pujangga, 3. (orang) pandai-pandai ; cerdik cendikia.
4. Susastra : karya yang isi dan bentuknya sangat serius, berupa ungkapan yang ditimba dari kehidupan kemudian direka dan disusun dengan bahasa yang indah sebagai saranya sehingga mencapai estetika yang tinggi.
5. Kesusastraan : 1. perihal sastra, 2. ilmu pengetahuan tentang segala hal yang bertalian dengan susastra, 3. buku-buku sejarah tentang sejarah susastra.
Dari pengertian yang telah dituliskan tadi maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sastra merupakan seni bahasa yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah dan memiliki makna yang dalam berdasarkan pengalaman jiwa manusia serta disusun dengan bahasa yang indah sehingga mencapai nilai estetika yang tinggi.
2.Periodisasi Sastra di Indonesia
Periodisasi Sastra adalah pembagian kesusastraan berdasarkan masa atau zamannya yang ditandai oleh ciri-ciri tertentu. Berikut periodisasi sastra Indonesia yang dibuat oleh berbagai ahli sastra :
1. B. Simorangkir-Simanjuntak berpendapat bahwa periodisasi sastra adalah sebagai berikut :
a) Masa lama atau purba (sebelum datangnya pengaruh hindu).
b) Masa hindu-arab (mulai dari pengaruh hindu sampai kedatangan agama islam, sampai kedatangan orang asing).
c) Masa baru (dari zaman Abdullah bin abdul kadir Munsyi, hingga perang dunia ke-II)
d) Masa mutakhir (dari tahun1942 sampai sekarang)
2. Nj. Nursinah Supardo, menurutnya periodisasi sastra dibagi menjadi :
a) Angkatan Abdullah atau zaman peralihan
b) Angkatan balai pustaka
c) Angkatan pujangga baru
d) Angkatan Jepang
e) Angkatan 45
3. Zuber Usman, B.A. menyusun periodisasi sebagai berikut :
a) Kesusastraan lama
b) Zaman peralihan
c) Kesusastraan baru yang dibagi atas :
1) Angkatan balai pustaka
2) Angkatan pujangga baru
3) Angkatan Jepang
4) Angkatan 45
4. Sabaruddin Ahmad, B.A. membuat pembagian sebagai berikut :
1) Sastra angkatan lama yang dibedakan atas :
a. Zaman dinamisme (masa pra sejarah)
b. Zaman hinduisme (masa pengaruh hindu)
c. Zaman islamisme (masa masuknya islam ke Indonesia)
2) Sastra angkatan baru yang dibagi pula atas :
a. Angkatan balai pustaka
b. Angkatan pujangga baru
c. Angkatan Jepang
d. Angkatan 45
5. Drs. Nugroho Sotosusanto membagi kesusastraan indonesia berdasarkan sejarahnya sebagai berikut :
a. Sastra melayu lama
b. Sastra Indonesia modern, yang dibagi atas :
1) Masa kebangkitan (1920-1945)
I. Periode 1920
II. Periode 1933
III. Periode 1945
2) Masa perkembangan (1945hingga sekarang) dibagi pula atas :
I. Periode 1945
II. Periode 1950
Kesimpulan :
Berdasarkan periodisasi di atas maka pembagian periodisasi sastra indonesia adalah sebagai berikut :
I. Kesusastraan lama, yang dibagi atas:
a. Zaman purba
b. Zaman hindu
c. Zaman islam
d. Zaman abdullah (zaman peralihan)
II. Kesusastraan baru, yang dibagi atas
a. Angkatan balai pustaka (angkatan 20)
b. Angkatan pujangga baru (angkatan 30)
c. Angkatan 45
d. Angkatan 50
e. Angkatan 66
3.Angkatan Balai pustaka
Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 – 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka.
Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura.
Pengarang dan karya sastra Angkatan Balai Pustaka
Merari Siregar
Merari Siregar (lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada 13 Juli 1896 dan wafat di Kalianget, Madura, Jawa Timur pada 23 April 1941) adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.
Setelah lulus sekolah Merari Siregar bekerja sebagai guru bantu di Medan. Kemudian dia pindah ke Jakarta dan bekerja di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo). Terakhir pengarang ini pindah ke Kalianget, Madura, tempat ia bekerja di Opium end Zouregie sampai akhir hayatnya.
Karya-karyanya yang terkenal adalah
1. Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Cet. 1 tahun 1920,Cet.4 1965.
2. Binasa Karena Gadis Priangan. Jakarta: Balai Pustaka 1931.
3. Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi. Jakarta: Balai Pustaka 1924.
4. Cinta dan Hawa Nafsu. Jakarta: t.th.
5. Si Jamin dan si Johan. Jakarta: Balai Pustaka 1918
.
Marah Roesli
Marah Rusli, sang sastrawan itu, bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran. Ayahnya bekerja sebagai demang. Marah Rusli mengawini gadis Sunda kelahiran Bogor pada tahun 1911. Mereka dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli, tetapi Marah Rusli kokoh pada sikapnya, dan ia tetap mempertahankan perkawinannya.
Meski lebih terkenal sebagai sastrawan, Marah Rusli sebenarnya adalah dokter hewan. Berbeda dengan Taufiq Ismail dan Asrul Sani yang memang benar-benar meninggalkan profesinya sebagai dokter hewan karena memilih menjadi penyair, Marah Rusli tetap menekuni profesinya sebagai dokter hewan hingga pensiun pada tahun 1952 dengan jabatan terakhir Dokter Hewan Kepala. Kesukaan Marah Rusli terhadap kesusastraan sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari tukang kaba, tukang dongeng di Sumatera Barat yang berkeliling kampung menjual ceritanya, dan membaca buku-buku sastra. Marah Rusli meninggal pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.
Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh H.B. Jassin sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat.
Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, Siti Nurbaya. Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya.
Dalam Siti Nurbaya, telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita. Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya. Ceritanya menggugah dan meninggalkan kesan yang mendalam kepada pembacanya. Kesan itulah yang terus melekat hingga sampai kini. Setelah lebih delapan puluh tahun novel itu dilahirkan, Siti Nurbaya tetap diingat dan dibicarakan.
Selain Siti Nurbaya, Marah Rusli juga menulis beberapa roman lainnya. Akan tetapi, Siti Nurbaya itulah yang terbaik. Roman itu mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia.Karya-karyanya yang terkenal antara lain :
• Siti Nurbaya. Jakarta : Balai Pustaka. 1920 mendapat hadiah dari Pemerintah RI tahun 1969.
• La Hami. Jakarta : Balai Pustaka. 1924.
• Anak dan Kemenakan. Jakarta : Balai Pustaka. 1956.
• Memang Jodoh (naskah roman dan otobiografis)
• Tesna Zahera (naskah Roman)
Nur Sutan Iskandar
Nur Sutan Iskandar (Sungai Batang, Sumatera Barat, 3 November 1893 – Jakarta, 28 November 1975) adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka.
Nur Sutan Iskandar memiliki nama asli Muhammad Nur. Seperti umumnya lelaki Minangkabau lainnya Muhammad Nur mendapat gelar ketika menikah. Gelar Sutan Iskandar yang diperolehnya kemudian dipadukan dengan nama aslinya dan Muhammad Nur pun lebih dikenal sebagai Nur Sutan Iskandar sampai sekarang.
Setelah menamatkan sekolah rakyat pada tahun 1909 Nur Sutan Iskandar bekerja sebagai guru bantu. Pada tahun 1919 ia hijrah ke Jakarta. Di sana ia bekerja di Balai Pustaka, pertama kali sebagai korektor naskah karangan sampai akhirnya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925-1942). Kemudian ia diangkat menjadi Kepala Pengarang Balai Pustaka, yang dijabatnya 1942-1945.
Nur Sutan Iskandar tercatat sebagai sastrawan terproduktif di angkatannya. Selain mengarang karya asli ia juga menyadur dan menerjemahkan buku-buku karya pengarang asing seperti Alexandre Dumas, H. Rider Haggard dan Arthur Conan Doyle. Karya-karyanya yang terkenal antara lain :
1. Apa Dayaku karena Aku Perempuan (Jakarta: Balai Pustaka, 1923)
2. Cinta yang Membawa Maut (Jakarta: Balai Pustaka, 1926)
3. Salah Pilih (Jakarta: Balai Pustaka, 1928)
4. Abu Nawas (Jakarta: Balai Pustaka, 1929)
5. Karena Mentua (Jakarta: Balai Pustaka, 1932)
6. Tuba Dibalas dengan Susu (Jakarta: Balai Pustaka, 1933)
7. Dewi Rimba (Jakarta: Balai Pustaka, 1935)
8. Hulubalang Raja (Jakarta: Balai Pustaka, 1934)
9. Katak Hendak Jadi Lembu (Jakarta: Balai Pustaka, 1935)
10. Neraka Dunia (Jakarta: Balai Pustaka, 1937)
11. Cinta dan Kewajiban (Jakarta: Balai Pustaka, 1941)
12. Jangir Bali (Jakarta: Balai Pustaka, 1942)
13. Cinta Tanah Air (Jakarta: Balai Pustaka, 1944)
14. Cobaan (Turun ke Desa) (Jakarta: Balai Pustaka, 1946)
15. Mutiara (Jakarta: Balai Pustaka, 1946)
16. Pengalaman Masa Kecil (Jakarta: Balai Pustaka, 1949)
17. Ujian Masa (Jakarta: JB Wolters, 1952, cetakan ulang)
18. Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas II (Jakarta: JB Wolters, 1952)
19. Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas III (Jakarta: JB Wolters, 1952)
20. Peribahasa (Karya bersama dengan K. Sutan Pamuncak dan Aman Datuk Majoindo. Jakarta: JB Wolters, 1946)
21. Sesalam Kawin (t.t.)
Abdul Muis
Abdul Muis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – wafat di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad yang didirikan pada tahun 1916 oleh pemerintah penjajahan Belanda. Ia dimakamkan di TMP Cikutra – Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959).
Karir yang pernah dia jalani :
Dia pernah bekerja sebagai klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung pada surat kabar Belanda, Preanger Bode, harian Kaum Muda dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim. Selain itu ia juga pernah aktif dalam Syarikat Islam dan pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama (1920-1923). Setelah kemerdekaan, ia turut membantu mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan
Riwayat Perjuangan melawan penjajah antara lain :
• Mengecam tulisan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia melalui tulisannya di harian berbahasa Belanda, De Express
• Pada tahun 1913, menentang rencana pemerintah Belanda dalam mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis melalui Komite Bumiputera bersama dengan Ki Hadjar Dewantara
• Pada tahun 1922, memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta sehingga ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat
• Mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda dalam pendirian Technische Hooge School – Institute Teknologi Bandung (ITB)
Karya-karyanya yang terkenal :
• Salah Asuhan (novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972)
• Pertemuan Jodoh (novel, 1933)
• Surapati (novel, 1950)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...